Kisah Subir dan Anto, Kakak - Beradik Pengrajin Kayu dari Karimunjawa

Oleh Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari

Dipublikasikan pada 19 Januari 2026

Gambar utama untuk Kisah Subir dan Anto, Kakak - Beradik Pengrajin Kayu dari Karimunjawa
Gambar di dalam artikel

Ketekunan yang dimiliki oleh Subir dan Anto, dua kakak-adik dari Dusun Nyamplungan, Karimunjawa selama bertahun - tahun sukses memberikan pintu rezeki bagi mereka. Berkat keterampilan yang mereka miliki, kayu jenis Setigi, Kalimasada, dan Dewandaru dapat menjelma menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomis dan estetis. “Produknya macam - macam, mulai dari once (pipa rokok), tasbih, gelang, cincin, sabuk, keris, tongkat, hingga stik komando,” ujar Subir.

Sama dengan kakaknya, Anto juga mengolah hasil kayunya menjadi barang serupa. Dari Penuturan Anto, keterampilan dan ketekunan dalam membuat kerajinan kayu sudah dimulai sejak kecil. Musababnya, sedari kecil Ia sudah melihat secara langsung proses kayu diolah menjadi pipa rokok dari ayahnya. “Saya dari SD sudah belajar tapi manual, sekarang sudah pake alat mesin,” tuturnya.

Gambar di dalam artikel

Pada awalnya, Anto tidak memilih jalan menjadi seorang pengrajin kayu. Belasan tahun yang lalu, Ia lebih memilih bertani hingga merantau hingga Kalimantan. “Tapi ga usaha seperti sekarang, dulu Cuma iseng - iseng aja. Kalau saya dulunya petani sama nanam - nanam singkong terus nanam padi,” ungkapnya. Namun, setelah menikah dengan Istrinya, Ia baru memulai usahanya dalam memproduksi kerajinan kayu.

Gambar di dalam artikel

Berbeda dari adiknya, Subir telah menjalani usaha ini lebih awal dari tahun 2005, sudah dua puluh tahun lamanya. Pada masa itu, Subir bercerita bahwa harga kayu masih tergolong sangat murah, hanya 30 ribu per 1 kubik kayu. Namun, lambat laun harga kayu - kayu itu dari tahun ke tahun harganya turut naik meski cuma 10 ribu. “Kayu ini kok mampu bersaing dengan kayu jati, kelak suatu saat pasti kayu ini pasti bakal laku,” tuturnya.

Benar saja, kini harga kayu tersebut sudah bernilai cukup mahal. Satu batang pipa rokok yang dibuat oleh Subir sudah bernilai hingga seratus ribu. Belum lagi jika kayu yang dipakai adalah jenis Stigi Barik, menurut pengalamannya harga Keris dari Stigi Barik bisa dihargai lebih dari satu juta rupiah.

Anto juga memparakan hal serupa, menurutnya harga dari olahan kerajinan kayu tergantung dari jenis kayu dan motif kayu yang digunakan. Berbagai jenis kayu dan motif kayu yang memilik nilai ekonomis tersebut, Ia dapatkan dari nelayan yang pulang melaut. “Kayunya kadang di pesisir pantai, di tiap pulau ada, paling kadang nelayan kalau di pulau berhenti sebentar, ambil tiga hingga empat batang terus pulang, saya beli,” ungkapnya.

Gambar di dalam artikel

Usaha kerajinan kayu yang dijalani selama puluhan tahun oleh Anto dan Subir, nyatanya tidak menyurutkan semangat mereka hingga kini. Bagi Subir, menjadi seorang pengrajin kayu harus memiliki semangat tinggi, sifat ulet dan sabar. Bahkan di usianya yang kini lebih dari setengah abad, tidak ada niatan bagi dirinya untuk berhenti dari usaha kerajinan kayu yang Ia tekuni. “Tidak ada niatan berhenti, justru saya berpikir gimana caranya pekerjaan saya ini disukai oleh mereka - mereka (masyarakat luas), emang itu harapan saya,” pungkas Subir.