Omah Karang Ajak Wisatawan Turut Peduli terhadap Wisata Laut Karimunjawa
Oleh Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Dipublikasikan pada 19 Januari 2026


Rintik hujan pagi hari (tanggal) membasahi lapangan bola di Dusun Nyamplungan, Desa Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Semilir angin sepoi-sepoi menembus diantara jalanan dusun yang sepi. Hanya satu dua motor yang melintas, selebihnya jalanan tampak lengang. Dari depan lapangan bola tersebut, berdiri sebuah rumah berwarna putih sederhana di atas lahan yang tak lebih dari 100 meter persegi.
Suherman, sosok kepala keluarga rumah tersebut, menyapa dan menyambut kami, Tim KKN PPM UGM Karimunjawa Periode 4. Herman, sapaan akrabnya adalah salah satu aktor dibalik berdirinya usaha Omah Karang di Desa Karimunjawa. Dimulai sejak pertengahan tahun 2022, Omah Karang berupaya mengajak wisatawan untuk berwisata sembari berpartisipasi dalam menjaga ekosistem Laut Karimunjawa dengan melakukan penanaman terumbu karang atau Coral Planting. “Jadi nanti misalnya, ada tamu yang dateng terus mau nanam coral terus melihat - lihat, tim kami yang yang mengajak,” paparnya.

Sembari menyeruput kopi, Herman bercerita mengenang masa awal usaha tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak dapat ia lakukan oleh dirinya sendiri, melainkan bersama dengan empat pemuda lainnya di Dusun Nyamplungan. Herman menjelaskan kegiatan awal yang mereka lakukan adalah adalah melestarikan terumbu karang. Namun, setelah melihat potensi pariwisata yang ada di Karimunjawa, terbesit ide dari mereka untuk turut mengajak wisatawan menjaga dan melestarikan ekosistem Laut Karimunjawa. “Kegiatan ini ya memang tujuannya selain melestarikan alam, nggih kegiatan ini untuk wisata juga,” ungkapnya.
Perjalanan yang kurang lebih berjalan sekitar dua setengah tahun nyatanya mendapat respon positif dan dukungan dari berbagai pihak. Pada awal merintis perjalanan, masyarakat setempat membantu kegiatan yang mereka lakukan, mulai dari sumbangan semen hingga pasir. Tak berhenti pada dukungan dari masyarakat setempat, kini usaha mereka juga didukung oleh Balai Taman Nasional (BTN) Karimunjawa. “Disediakan dua hektar dari BTN, buat budidaya terumbu karangnya,” cerita Herman.

Ketika kami menanyakan harga tarif pengunjung untuk dapat menikmati keindahan laut sembari menanam terumbu karang, Herman tampak sungkan mengungkapkannya. “Sebenarnya kami tidak mematok harga untuk kegiatan ini, kami kalau mematok harga ga enak,” tuturnya. Bagi mereka, usaha ini bukan ladang untuk mencari keuntungan sebanyak - banyaknya, maka dari itu, mereka tidak menetapkan harga pasti. Namun, biasanya ketika ada pengunjung yang bertanya, tarif yang dikenakan adalah 250 ribu. Harga ini masih bisa dinegosiasikan, terlebih jika wisatawan datang secara berkelompok. Dengan harga 250 ribu, pengunjung sudah mendapatkan berbagai fasilitas, mulai dari penjemputan di penginapan, foto di atas kapal, foto di bawah laut, terumbu karang untuk ditanam, hingga makan siang serta kelapa muda sebagai minuman.
Di akhir cerita, Herman memberikan pesan kepada kami untuk turut menjaga alam. Herman mengingatkan bahwa alam memiliki kaitan erat dengan keberlangsungan hidup masyarakat. Menurutnya, ketika alam dijaga dan dilestarikan, maka akan mendatangkan rezeki bagi masyarakat. “Kalau alam ngga baik, ngga kita jaga. Terus dapet rejeki dari mana?,” tanya Herman.